lif logo
Food and Nutrition

Penyebab Makanan Manis Sulit Ditolak

17 Jan 2025

0 Min Read

lif app banner desktop


Makanan manis, siapa yang bisa menolaknya? Dari kue lapis yang lembut hingga es krim yang creamy, pengalaman menikmati makanan manis seringkali membuat kita merasa lebih bahagia. Namun, apakah kamu tahu mengapa kita begitu sulit untuk menolak makanan manis ketika diberikan pilihan?


Ada beberapa hal yang menyebabkan makanan manis menjadi adiksi yang tidak bisa ditolak.


Faktor Biologis

Makanan manis dapat memicu pelepasan hormon dopamin di otak kita, sebuah hormon yang memberikan perasaan senang pada kita. Namun, tahukah kamu ternyata gula atau makanan manis dapat menciptakan perasaan candu? Oleh sebab itu, banyak orang yang mengonsumsi makanan manis sebagai self-reward ataupun coping mechanism—sebuah cara agar untuk menghilangkan perasaan stres. 

Dalam jangka panjang, terlalu banyak stimulasi dopamin akibat konsumsi gula dapat membuat otak “kebal” terhadap kadar dopamin normal. Akibatnya, kita membutuhkan lebih banyak gula untuk mencapai level kepuasan yang sama. Fenomena ini mirip dengan kecanduan zat lain, di mana tubuh membutuhkan dosis lebih besar seiring waktu.

Tapi tahukah kamu jika kita berolahraga, tubuh akan mengeluarkan hormon dopamin? Namun banyak orang yang tidak menyukai perasaan lelah yang dapat muncul selama olahraga, sehingga memilih pelarian dengan mengonsumsi makanan manis saat stres.


Faktor Sosial dan Psikologis

Selain faktor biologis, ada juga faktor sosial dan psikologis yang berperan. Kita sering mengasosiasikan makanan manis dengan perasaan bahagia, nostalgia, dan kenangan indah. Misalnya, banyak dari kita memiliki kenangan masa kecil yang menyenangkan saat merayakan ulang tahun atau berkumpul bersama keluarga sambil menikmati makanan penutup. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Cornell menunjukkan bahwa lingkungan sosial dapat mempengaruhi pilihan makanan kita. Ketika berada dalam kerumunan yang mengonsumsi makanan manis, kita cenderung ikut terjebak dalam suasana dan memilih untuk ikut menikmatinya. 


Tubuh Membutuhkan Gula

Tubuh kita sebenarnya membutuhkan gula atau glukosa agar dapat berfungsi dengan baik, terutama otak kita yang membutuhkan glukosa untuk energi. Namun, ketika kita terbiasa mengkonsumsi gula dalam jumlah tinggi, tubuh mulai menyesuaikan diri dengan kadar gula tersebut. Hal ini mengarah pada rasa lapar yang muncul lebih cepat ketika kadar gula dalam darah mulai turun, yang pada akhirnya membuat kita mencari makanan manis untuk meningkatkan energi secara instan. Ini adalah siklus yang membuat kita terus merasa lapar untuk makanan manis.

Sangat penting bagi kita untuk memahami penyebab kita ingin mengonsumsi makanan manis, terutama dalam upaya menjaga kesehatan jangka panjang. Keinginan untuk makanan manis tidak hanya terjadi karena ketidakmampuan kita menahan diri, tetapi juga dipengaruhi oleh respons biologis tubuh terhadap gula. Dengan memahami alasan ini, kita bisa lebih bijaksana dalam mengatur konsumsi gula.

Menggantikan gula dengan alternatif yang lebih sehat atau mengurangi konsumsi gula secara bertahap bisa membantu menurunkan respons ketergantungan tubuh terhadap gula. Ingatlah bahwa sesekali menikmati makanan manis adalah hal yang normal, tetapi mengatur frekuensi dan jumlahnya adalah kunci untuk kesehatan yang lebih baik.


Artikel ini ditulis oleh Puspasari Pasaribu, S.Gz



WhatsApp
footer-banner

See Our Social Media

Stay in touch with your body and get Healthier

Get daily wellness tips, product updates, and health inspiration. Follow us on social media. See Our Social Media.

Get In Touch!

Have questions about our products or programs? Our team is ready to help.

Contact Us

For Corporates

Phone

08999 7474 77