lif logo
Food and Nutrition

Berkenalan Dengan Bahan Aditif

30 Oct 2025

3 Min Read

lif app banner desktop


Bayangkan kamu membuka roti tawar seminggu setelah dibeli, dan masih terlihat sempurna. Hebat? Mungkin. Tapi pernahkah kamu bertanya, apa yang membuatnya tetap “hidup” selama itu?

Sama halnya dengan jus buah dalam kemasan kotak yang rasa manisnya selalu konsisten, atau kopi dalam kemasan sachet yang awet hingga bertahun-tahun, bahan aditif membuat makanan dan minuman ini tetap “hidup” sampai lama. 


Pengawet, pemanis, penyedap rasa, dan semua bahan yang ditambahkan ke dalam makanan atau minuman untuk tujuan tertentu biasa dikenal dengan “bahan aditif”. BPOM dan WHO mendefinisikan bahan aditif dalam satu klausul definisi berbunyi : “Bahan aditif makanan adalah bahan yang ditambahkan ke makanan untuk memperbaiki warna, rasa, tekstur, atau daya simpan, tanpa dimaksudkan untuk dikonsumsi sebagai makanan itu sendiri.”


Ditambahkan tapi ada batas


bahan aditif ditambahkan ke dalam makanan dan minuman dengan berbagai tujuan. Diantaranya adalah untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan agar tidak mudah rusak. Selain itu, bahan aditif juga memiliki tugas untuk memperbaiki cita rasa dan tampilan produk. Terakhir, di dalam industri makanan, tentu semua produk yang dihasilkan harus memiliki konsistensi kualitas, di sinilah peran bahan aditif sebagai katalis dalam konsistensi proses produksi makanan dan minuman kemasan.


Meski aman untuk dikonsumsi, bahan aditif memiliki aturan tertulis untuk penggunaannya. Keamanan bahan aditif diatur melalui konsep ADI (Acceptable Daily Intake) batas aman konsumsi per hari berdasarkan berat badan seseorang. Sebagai contoh, ADI untuk pemanis aspartam adalah 40 mg per kilogram berat badan per hari, artinya orang dengan berat 60 kg bisa mengonsumsi hingga 2400 mg aspartam per hari tanpa risiko kesehatan.


Jenis dan kategori bahan aditif yang umum ditemui

Secara umum, bahan aditif dibedakan menjadi dua kelompok besar, aditif alami dan sintetis. Aditif alami berasal dari bahan alam seperti garam, gula, cuka, atau pewarna alami dari kunyit dan bit. Aditif sintetis dibuat melalui proses kimia, seperti natrium benzoat atau aspartam, yang biasanya memiliki fungsi lebih spesifik dan tahan lama.

Beberapa jenis bahan aditif yang sering muncul di label makanan antara lain:


Pengawet (Preservatives) — mencegah makanan cepat basi.

Contoh: natrium benzoat, nitrat pada sosis atau daging olahan.


Pewarna (Coloring Agents) — membuat makanan terlihat lebih menarik.

Contoh: tartrazin (kuning), karamel (cokelat).


Pemanis (Sweeteners) — memberi rasa manis dengan atau tanpa kalori.

Contoh: gula, stevia, aspartame.


Penyedap rasa (Flavor Enhancers) — memperkuat cita rasa makanan.

Contoh: MSG, inosinat, guanilat.


Pengemulsi & Penstabil (Emulsifiers & Stabilizers) — menjaga tekstur agar bahan tidak terpisah.

Contoh: lesitin, karagenan, gum arab.


Cara bijak mengonsumsi makanan berbahan aditif


Lalu, bagaimana cara kita menjadi konsumen yang cerdas dalam menghadapi produk dengan bahan aditif? Langkah paling sederhana adalah membaca label kemasan. Perhatikan daftar bahan atau “ingredients list” dan kenali istilah-istilah seperti kode E100–E999 yang menandakan jenis aditif tertentu. 

Mudahnya, semakin panjang daftar bahannya, biasanya semakin banyak bahan tambahan yang digunakan. Pilihlah produk dengan daftar bahan sesingkat mungkin dan utamakan makanan segar atau buatan sendiri. Bagi orang yang memiliki waktu terbatas seperti karyawan kantoran, membawa bekal dari rumah 2–3 kali seminggu sudah bisa mengurangi asupan aditif secara signifikan. 


Contoh bahan makanan dengan daftar panjang bahan aditif adalah makanan ultra proses. Dengan meminimalisir konsumsi makanan ultra proses seperti fast food, makanan instan, atau minuman berpemanis buatan, juga dapat menjadi langkah yang bijak. 

Menggunakan prinsip 80:20 di mana 80% makanan berasal dari bahan alami, dan 20% boleh dari produk olahan. Prinsip ini dapat diterapkan untuk fleksibilitas gaya hidup modern dalam kehidupan sehari-hari bagi mereka yang sibuk.


Bahan aditif bukan musuh, tanpa adanya bahan aditif banyak produk makanan tidak akan tahan lama atau bahkan bisa berisiko rusak sebelum sampai ke tangan kita. Namun, bahan aditif bukan berarti dapat dikonsumsi tak terbatas tanpa efek samping. Moderasi adalah kunci. Kenali bahan yang kamu konsumsi, perhatikan label kemasan, dan tetap utamakan makanan segar dalam rutinitas harian mu. 


Mengenal apa yang masuk ke tubuhmu adalah langkah kecil menuju kendali besar atas kesehatanmu. Makan boleh praktis, tapi tetap cerdas memilih!

WhatsApp
footer-banner

See Our Social Media

Stay in touch with your body and get Healthier

Get daily wellness tips, product updates, and health inspiration. Follow us on social media. See Our Social Media.

Get In Touch!

Have questions about our products or programs? Our team is ready to help.

Contact Us

For Corporates

Phone

08999 7474 77